Pendidikan
Dari Lembaran Kertas ke Big Data Spasial: Revolusi Peta dalam Peradaban Digital

Dari Lembaran Kertas ke Big Data Spasial: Revolusi Peta dalam Peradaban Digital

Kategori: Geografi, Teknik Geodesi & Ilmu Komputer Kata Kunci: Sistem Informasi Geografis (SIG), Kartografi Digital, Remote Sensing, Geopolitik

Bagi siswa sekolah dasar, “Peta dan Atlas” mungkin identik dengan buku tebal berisi gambar benua yang harus dihafal ibu kotanya, atau tugas menggambar pulau dengan menjiplak di kaca jendela. Peta dipahami sebagai representasi statis: “Di sini Jakarta, di sana Surabaya.”

Namun, di tingkat universitas—khususnya dalam prodi Geografi, Perencanaan Wilayah dan Kota (Planologi), hingga Teknik Informatika—definisi peta telah berubah total. Peta bukan lagi sekadar gambar, melainkan basis data (database). Kita memasuki era Sistem Informasi Geografis (SIG), di mana peta menjadi alat analisis cerdas yang berlapis-lapis.

Baca juga: 15 Aplikasi Penghasil Uang 50 Ribu Perhari Terbukti Membayar ke DANA 2026

Peta sebagai “Lasagna” Data: Konsep Layering dalam GIS

Perubahan terbesar dalam ilmu kartografi modern adalah konsep layering (pelapisan). Sebuah peta digital modern tidak hanya menampilkan jalan raya. Ia terdiri dari tumpukan data yang bisa dianalisis terpisah maupun digabungkan.

Mahasiswa Planologi menggunakan peta dasar, lalu menumpuknya dengan “layer” curah hujan, “layer” kepadatan penduduk, dan “layer” kemacetan lalu lintas.

Ilustrasi: Diagram lapisan (layer) dalam Sistem Informasi Geografis (SIG) yang memisahkan data jalan, penggunaan lahan, dan data fisik lainnya.

Dengan teknologi ini, peta bisa “menjawab” pertanyaan kompleks. Misalnya: “Di mana lokasi terbaik membangun rumah sakit baru yang bebas banjir, dekat dengan pemukiman padat, tapi jauh dari pabrik?” Komputer melakukan overlay (tumpang susun) data tersebut untuk memberikan jawaban presisi. Ini adalah inti dari pengambilan keputusan berbasis spasial.

Mata di Langit: Penginderaan Jauh (Remote Sensing)

Jika dulu pembuat peta harus berjalan kaki mengelilingi pulau, mahasiswa Teknik Geodesi kini menggunakan data satelit. Materi “Atlas” berevolusi menjadi Penginderaan Jauh.

See also  Persiapan Mantap Menghadapi UAS Bahasa Jawa Kelas 5 SD Semester 1: Kumpulan Contoh Soal dan Pembahasan Lengkap

Kita bisa memetakan kesehatan hutan Kalimantan tanpa harus masuk ke dalamnya, hanya dengan menganalisis pantulan gelombang cahaya inframerah yang ditangkap satelit. Peta modern bisa mendeteksi cadangan minyak di bawah tanah, sebaran tumpahan minyak di laut, hingga pergerakan pasukan militer secara real-time. Peta menjadi dinamis, hidup, dan terus diperbarui setiap detik.

Peta sebagai Alat Politik dan Kuasa

Di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP), peta dipelajari sebagai instrumen kekuasaan (Geopolitik). Garis perbatasan di peta bukan sekadar tinta; itu adalah klaim kedaulatan yang bisa memicu perang.

Mahasiswa Hubungan Internasional mempelajari bagaimana peta Laut Natuna Utara menjadi sengketa panas karena perbedaan interpretasi batas maritim. Peta memiliki kekuatan untuk melegitimasi keberadaan sebuah negara atau menghapusnya (seperti dalam kasus konflik wilayah). Siapa yang memegang peta paling akurat, dialah yang menguasai medan—baik dalam perang militer maupun perang dagang.

Kesimpulan

Belajar tentang Peta dan Atlas di universitas adalah belajar tentang cara pandang (spatial thinking). Kita diajak melihat dunia tidak hanya sebagai daftar lokasi, tetapi sebagai pola hubungan yang kompleks.

Dari aplikasi ojek online yang kita gunakan setiap hari hingga strategi pertahanan negara, semuanya bergantung pada ilmu kartografi yang canggih. Peta adalah jembatan antara data abstrak dengan realitas fisik tempat kita berpijak.

Sumber:https://bungkuselatan.id/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *